Bisa dan Tahu itu Idealnya

(CIO) — Seni itu ekspresi, tidak ada ruangan kamar, kotak ataupun gudang untuk membatasinya. Jika seni bertujuan untuk memelihara akar dari budaya, masyarakat harus membiarkan seniman bebas mengikuti visi “keanehan” masing-masing kemanapun hal itu akan mereka tuangkan.

Dalam persepsi saya, jika seniman menambahkan suatu “keanehan” yang tidak dianeh-anehkan pada karya seni, itu bukan karena alasan estetika, tetapi itu lebih karena alasan ekspresi.

Kreativitas dalam balutan ekspresi itu kunci kemapanan karya seni. Saya termasuk golongan yang anti “dimapankan”. Dalam konteks ini bukan berarti meninggalkan kaidah seni yang ada, tetapi lebih pada pembebasan untuk mengerahkan semua kemampuan daya cipta, karsa dan karya, dengan kreasi baru.

Proses berfikir kreatif seniman merupakan proses yang bermuara akan lahirnya ide-ide baru dalam karya seni. Lebih dari sekedar teori, maka kreativitas seniman akan terus berkembang sesuai dengan peradaban budaya yang didalamnya ada unsur ide-gagasan dan kreativitas. Peradaban itu endingnya dapat mengajarkan kepada kita adanya kajian realitas sosial, tradisi, adat-istiadat, historis, religi, ekonomi dan bahkan politik sekalipun.

Dengan tetap berpedoman pada value-value di atas, saya pribadi masih tetap percaya bahwa basis kemampuan dalam berkesenian adalah pengalaman yang didasari penguasaan teknis serta alat-alatnya yang memadai.

Bagaimanapun, masalah kesenian –apalagi sastra dan teater– adalah terutama masalah bisa –mampu membuat– dan bukan hanya sekedar tahu, walaupun tahu dan bisa adalah paling ideal.

#salam_budaya
#unssro_2022

(***)

Penulis : Joko Tingkir

Baca Juga:  Couple Penyair Muda Lampung dan Riau Siap Luncurkan Kumpulan Puisi Solo Pertama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *