BERITA  

Wehrkreis Peringati Peristiwa Jogja Kembali 29 Juni di Kawasan Malioboro

Wehrkreis Peringati Peristiwa Jogja Kembali

CIO—Paguyuban Wehrkreis III Yogyakarta akan menggelar Peringatan Jogja Kembali di Kawasan Malioboro, Kelurahan Suryatmajan, Kemantren Danurejan, Kota Yogyakarta.

Peringatan Jogja Kembali itu akan digelar secara sederhana pada tanggal 29 Juni 2022 diikuti oleh ratusan peserta dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya.

Ketua Badan Pengurus Cabang Paguyuban Wehrkreis Daerah Perlawanan III Yogyakarta, Sudjono, menegaskan sekarang bukanlah generasi muda panggul senjata melainkan pemuda yang mengisi kemerdekaan dengan kemanfaatan.

“Bukanlah generasi yang memanggul senjata, namun, semangat untuk selalu berkarya dan dalam mengisi kemerdekaan sebagai manusia yang bisa bermanfaat untuk sesama,” katanya, Kamis.

Ia berharap Peringatan Jogja Kembali dapat menggugah rasa nasionalisme dan jiwa patriotisme generasi muda.

Dengan adanya Peringatan Jogja Kembali generasi muda dapat meneruskan dan mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia.

Masih serangkaian Peringatan Jogja Kembali, pada keesokan harinya akan dilakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan di Kusumanegara Yogyakarta sebagai penghormatan kepada para pejuang yang gugur.

Nama Jogja Kembali diambil dari peristiwa ditariknya tentara Belanda dari Ibu Kota Negara Republik Indonesia di Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949.

Pada peristiwa itu Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta serta petinggi lainya turut dikembalikan ke Yogyakarta.

Peristiwa itu menjadi titik awal bangsa Indonesia terbebas dari penjajah Belanda.

Untuk mengigat Peristiwa Jogja Kembali, Pemerintah mendirikan monumen besar sebagai tanda pengingat bahwa pernah terjadi peristiwa sejarah besar di Yogyakarta.

Monumen itu kemudian diberi nama Monumen Jogja Kembali yang berlokasi di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Monumen itu berbentuk gunung yang bermakna bahwa rakyat Indonesia adalah bangsa yang menjaga dan melestarikan budaya dan sejarahnya.

Baca Juga:  Tinjau Kampus Bambu Turetogo, Menteri Basuki: Pembangunan Infrastruktur di Kementerian PUPR Harus Berlandaskan Prinsip Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan

Bentuk gunung pada Monumen melambangkan kesuburan seperti halnya Indonesia yang terkenal dengan tanahnya yang subur.

Monumen itu berisi koleksi peristiwa Serangan Umum 1 Maret 49 yang menewaskan para pejuang Indonesia.

“Mari kita bangkitkan kekuatan dan semangat pejuang dalam diri aga kemerdekaan ini dapat terus kita pertahankan dengan hal-hal yang bermanfaat,” pungkas Ketua Badan Pengurus Cabang Paguyuban Wehrkreis Daerah Perlawanan III Yogyakarta, Sudjono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.