CerPen  

Cerpen: Majilam

(CIO) – Majilam. Nama itu terkesan aneh dan unik berbunyi “Majilam”. Nama itu sudah jarang disebut-sebut lagi di kampungnya, nama itu seiringnya waktu menghilang dalam diam. Entah mengapa masyarakat di kampong Terentang melupakan nama itu. Apakah nama itu tidak bermakna atau nama tidak berarti tanpa jejak kebaikan yang diukir oleh pemiliknya. Sudah berpuluh-puluh tahun ia hidup di kampong. Ia termasuk orang pertama yanag menempati tempat di kampong.

Pada tahun itu muncullah seorang Sarjana Ekonomi jebolan UGM Jogja sesudah Indonesia merdeka beberapa tahun. Ada yang mengatakan itu berkat bantuan Majilam. Karena anak yang akan melanjutkan pendidikan tersebut sangat susah. Anak itu selalu datang meminta bekal untuk sekolah.

Oke itu kita lanjutkan nanti. Kita kembali lagi ke Majilam. Majilam hidup di kampong setelah Jepang membombardir dengan ganas kampong tersebut. Waktu yang memang tak bisa dihentikan. Ia berjalan begitu cepat melebihi kaki manusia berpijak di bumi.

Majilam merasakan suatu yang aneh di malam itu. Suara kaki yang menggetarkan jalan menjalar tanah menuju rumah Majilam. Kiriman angin membawa bau-bau yang khas. Itu bukan seperti orang yang pulang dari menyadap karet karena bau getah karet. Bukan juga bau kayu lumpur yang asam. Baunya menusuk hidung.

Suara jangkrik terus memekik nyaring. Para burung hantu dengan hidung pesek bernyanyi dengan indahnya dibawah bintang malam. Sambil menunggu tikus-tikus hutan keluar untuk diterkam dan jadikan makan malam paling spesial.

Rumah Majilam terletak di sepertiga persimpangan jalan. Arah utara menuju lahan perkebunan masa Orde Baru akan dijadikan lahan produktif. Arah timur menuju ke kota Kabupaten Pangkalan Balai. Arah barat masih tetap hutan belantara yang sangat jarang dilewati kaki manusia. Tapi sebaliknya telapak hewan buas ada di sana. Hanya manusia pemberani yang mampu dapat melintasi jalan itu.

Dari ujung jalan itulah meletus peluru tajam menghantam atap rumah dusun Terentang. Atap yang menggunakan bahan nipa kering. Lesatan peluru membuat api yang kemudian membesar secara langsung melahap rumah warga yang berdekatan.

Majilam terbangun panik. Tapi dengan cepat pula ia mengontrol dirinya. Dia sudah terbiasa menghadapi hal yang menggetirkan, dan ini kesekian kalinya. Walaupun boleh dibilang ini lebih ganas dari pada hewan buas di Sumatera.

Terdengar pula suara sepatu dengan hentakan yang menggelegar. Mereka mengenakan senjata api yang di ujungnya ada pisau kecil. Mata mereka sipit, baju mereka terbuat dari kain yang keras. Benda tajam pun sulit menembus tubuh mereka. Di lengan kanan baju terdapat bendera kecil berwarna putih keseluruhan, tapi tengah-tengahnya hanya ada warna merah terang berbentuk bulat.

Baca Juga:  Ngapain Disapuin Terus?

Beberapa pesawat melintas di rumah-rumah penduduk. Semua ketakutan. Begitu juga dengan Majilam dengan suaminya. Dengan segera mereka melarikan diri ke dalam hutan belantara. Tubuhnya menerabas pohon berduri, anaknya ia dorong dengan sigap supaya tidak terkena peluru. Suaminya sambil menunduk membawa anak-anaknya yang masih kecil.

Suami yang gagah, tinggi berkulit sawo matang dengan jari jemari keras dan kasar, memiliki hidung yang kecil dan mata yang sedikit sipit. Tingginya pun tidak main-main, seratus tujuh puluh tujuh centi meter. Dadanya berbidang seperti atlit renang di olympic.

Majilam sebaliknya tubuhnya kecil, ia mengenakan ikat kepala dengan kain songket di tenun dengan tangannya sendiri. Makanan cemilannya daun sirih yang membuat bibirnya merah. Rambutnya hitam, matanya bulat dengan bentuk jidat lebar. Bentuk kepalanya sangat ideal untuk seorang pemeran film spiderman yang tidak ada, tonjolan kanan, kiri dan tengah kepala.

“Berlarilah cepat Jang,” perintahnya kepada anaknya yang bernama Barap.

Ia melongo dengan heran. Bahkan penuh tanya. Situasi lagi kalap karena suara tembakan di mana-mana. Barap dan sang adik menyeruduk semak-semak hutan yang berada di dekat rumahnya.

Orang-orang pun sama berlari ke dalam hutan dengan cepat. Dari kejauhan Barap dan beberapa orang yang lainnya melihat rumah sudah terbakar hebat. Asap berbau menyengat menyebar ke seluruh hutan.

Majilam sekeluarga terpaksa berdiam di hutan bersama rombongan yang lain.
Tapi setidaknya mereka aman dari serangan tentara Jepang. Mereka menyusuri hutan yang benar-benar jauh dari perkampungan mereka. Sekarang tidak ada suara apapun, yang ada hanya suara hewan langka beradu.

Kebiasaan yang sudah turun temurun bahwa mereka seperti memiliki dua rumah, yang satu di kampong yang satu lagi di dalam hutan. Yaitu rumah kecil mirip pondok-pondok untuk menjaga ladang pohon karet yang masih kecil. Biasanya mereka juga menginap berhari-hari di ladang tersebut sampai berminggu-minggu bahkan sampai berbulan-bulan. Di ladang itu ditanam berbagai macam tanaman yang dapat dimakan seperti singkong, ubi jalar, tebu, sayur, cabe, dan tanaman lainnya.

Majilam meminta anaknya mencari kayu kering untuk dibuat api. Barap pun membuatnya dengan telaten. Api akan menjaga mereka dan mengusir nyamuk di malam hari.

Baca Juga:  Cerbung: Jalan Pintas (Bagian 7)

Sang suami setelah meletakan anak-anaknya dengan aman. Ia minta ijin kepada Majilam untuk melihat situasi di kampungnya. Setelah berdiskui alot berangkatlah beberapa rombongan.
Tiba mereka di kampong yang sudah hancur. Banyak di antara para orang kampong meninggal. Mereka memperbaiki rumah-rumah yang sudah hancur kena bom.

“Ade kabar ape ni?” tanyanya pada seorang yang bertelanjang memanggul kayu hitam karena terbakar.

“Uji kabar. Jepang menganggap kita sanaknye.” (Jepang menganggap mereka sebagai saudara Asia).

“Benar ke?” tanyanya ingin meyakinkan.

Banyak orang bicara seperti itu. Dan akhirnya mereka berkumpul di sebuah pendopo yang tidak berdinding. Puluhan orang tidak mengenakan baju hanya mengenakan celana kain yang sudah lapuk. Mereka duduk dengan berbagai posisi. Di tengah mereka ada sesosok tua yang mengenakan kian songket. Berwarna coklat tua. Entah apa yang mereka ucapkan. Yang lain hanya mendengar seperti terkena hipnotis.

Sementara itu di sebelahnya lagi seorang dengan perawakan sedang berbaju putih dengan posisi rambut cepak. Di pinggangnya terdapat sebuah pedang panjang bertulisan huruf kanji. Tiba-tiba semua bertepuk tangan riuh.

“Hore…hore.. Jepang sanak kite.” Ucap mereka dengan girang.

Seakan ada persatuan diantara mereka semua yang senasib terhadap hal yang melanda bangsa ini. Yaitu penjajah. Teriak berbunyi kembali bersatu-satu. Bersatu. Beberapa kali.

“Musyawarah dan keadilan sosial jangan dilupakan tuan-tuan.” Ungkapnya berapi-api.

“Setuju..!”
“Setuju..” jawab mereka serempak.

“Jangan sampai kita mati. Tidak berharga. Kita harus mati dengan terhormat membela bangsa, harkat dan martabat. Ayo….”

“Karena sesuai dengan bunyi sila pertama yang telah kita dengar melalui radio RRI bahwa Presiden mengatakan Ketuhanan yang maha Esa. Sebagai landasan kita sebagai orang yang bertuhan. Mempercayai bahwa dia akan menolong kita yang ingin membela negerinya demi untuk kebaikan bersama. Betull…”

“Betull…” jawab mereka serempak.

Pendopo seperti bergetar.

Pada malam hari semua mereka yang berkumpul di pendopo sedang bercakap-cakap mengenai perlawanan mereka terhadap Belanda.

Dari kejauhan di balik hutan suara mobil besar menderu melangkah maju menuju Desa Terentang. Mobil besar berkepala buaya menyusuri jalan bertambah merah. Jalan hanya dilalui oleh kaum bangsawan untuk pergi ke Pelabuhan Musi, melalui Rantau Bayur. Sebuah daerah di dekat pinggiran Sungai Musi.

Senjata tertodong di belakang mereka. Tentara Jepang mengacung senjata kepada seluruh orang yang berada di pendopo. Tak gentar sedikitpun mereka yang lusuh, dengan ikatan kain putih di kepala mereka. Dengan rela mereka berjalan dipadu todongan senjata.

Baca Juga:  Forum TBM Riau Gelar Lapak Baca Gratis di CFD Pekanbaru

Mobil yang tadi melaju dari Rantau Bayur merapat pelan di pertigaan rumah Majilam. Dug..dugg…bunyi tendangan sepatu mengenai paha tawanan.

“Kalian pencuri, pengkhianat, uragiri,” ucap tentara Jepang dengan mata melotot.

Suami Majilam pun ikut dihajar di dalam truk tersebut. Mobil Jepang membawa mereka ke kota Palembang. Mereka dimasukan ke dalam jeruji besi. Satu persatu dicatat nama mereka.

Sambil berbisik suami Majilam berkata kepada temannya. “Apa benar kita ditipu oleh mereka bangsa asing?” temannya hanya mengerakkan kepala tanpa diiringi suara.

Majilam menyaksikan kejadian itu bahwa suaminya ditangkap oleh tentara Jepang.

(***)

Majilam mulai menjalani hidup sendiri ditemani beberapa anaknya. Anak pertama dan kedua yang beranjak remaja, bekerja keras membantu sang ibu yang sendiri di hutan, yakni mengurus perkebunan dengan berbagai macam tanaman yang dijadikan untuk bertahan hidup.

Siang hari yang terik membangunkan sang anak yang kelelahan di bawah pondok yang sengaja dibangun untuk peristirahatan mereka. Matanya seperti lelah sekali karena harus menjaga perkebunan yang dibuat ibunya. Itu harta karun Majilam yang disisakan sang suami setelah ditangkap tentara Jepang dengan tuduhan sebagai seorang pemberontak.

Suara hewan di sore mulai menyaring, tanda-tanda malam akan datang. Seorang yang mengenakan baju dengan penuh lumpur merayap pelan menuju perkebunan yang dijaga sang bocah, yang sedang tertidur di dalam pondok.
Orang itu memasuki area perkebunan dan mencabut pohon singkong dan beberapa ubi jalar. Ia tidak tahu jika perkebunan yang sudah banyak sayur dan tanamannya dipasang perangkap. Perangkap itu digunakan untuk melindungi perkebunan dari hewan perusak tanaman. Sebenarnya perangkap itu untuk babi hutan.
Jika terinjak perangkap akan berbunyi nyaring.

Perangkap berbunyi…trang..trang…dengan benturan kaling-kaling kecil yang menimbulkan suara gaduh.

Sang pencuri tersangkut di perangkap dengan kaki di atas dan kepala dibawah. Ia berteriak, Tolong…tolong.

Anak Majilam terkejut ia berlari ke arah perangkap. Ia terkejut bukan main. Perangkap yang dibuat untuk hewan mengenai manusia. Ia takut tapi itu manusia dan bersuara. Dengan badan dipenuhi tanah lumpur.

“Siapa kamu?”
“Pencuri…!”
“Berani-beraninya kamu mencuri.”

Setelah ia mendekat dengan pelan beberapa meter. Ia seperti mengenali badan dan kaki yang tersangkut.

Ayah…
Dengan penasaran dan melepaskan perangkap yang masih mengikat kaki ayahnya.

Ayah selamat, syukurlah..
Terima kasih Tuhan….

Jogjo, Jakarta Barat 26 Juli 2022

(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.