SASTRA  

Selamat Jalan Maestro Pantomim Indonesia Jemek Supardi

(CIO) – Begitu menuruni tangga menuju Sanggarbambu saya melihat Maestro Pantomim Jemek Supardi duduk sendirian di tempat gelap.

“Apa kabar mas, sehat?” seraya berjabat tangan.

“Eh, lagi teka (baru datang),” sahutnya.

Saya sempat mbatin, kayaknya mas Jemek lagi ingin sendiri.

Bermaksud tidak ingin mengganggu kesendiriannya dan langsung nimbrung ke depan, mas Jemek malah menanyakan saya tinggal di mana.

Namun, saya tidak lantas mengajak mas Jemek ke depan malah duduk ngobrol panjang di tempat gelap.

Kami pun ngobrol sekira setengah jam sebelum kegiatan di Sanggarbambu dimulai.

Mas Jemek duduk di kursi mengenakan pakaian warna putih menghadap ke Barat, sementara saya duduk di kayu menghadap ke Utara dekat pagar bambu yang di baliknya terdapat kandang kambing milik warga setempat.

Yang masih saya ingat dari obrolan itu mas Jemek mengajak saya untuk main ke Pakem, Sleman.

Tapi, waktu itu, pandangan mas Jemek agak sayu. Dan bicaranya lirih.

Saya sempat bertanya ke mas Jemek terhadap karya-karyanya yang kritik sosial.

Maestro Pantomim Indonesia itu hanya menjawab: “Itu hal biasa yang tidak perlu diluarbiasakan.”

Semasa masih aktif di Harian Umum Surat Kabar Koran Sumsel yang pernah dikasuskan ke Mahkamah Konstitusi, saya menulis kolom tentang mas Jemek.

Sebagai seorang seniman yang kritis, mas Jemek Supardi, adalah tokoh seniman yang perlu dicatat sejarah kepantomimannya.

“Seorang maestro pantomim Indonesia yang lahir dan besar di Yogya.”

Selamat jalan mas Jemek Supardi. Obrolan di Sanggarbambu malam itu bisa jadi awal kesejarahanmu.

(***)

Adham
Sewon, Yogyakarta, Ahad (17/07/2022).

Baca Juga:  Cerpen: Titik Buntu Kesemena-menaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.