Mengemis itu Merusak Diri

(CIO) — Tiga orang wanita datang berderet di depan agen sembako.

“Yuk kita masuk kesini,” ujar salah satu wanita sambil mengajak temannya.

Kebetulan saya lagi duduk menunggu barang dagangan.

Saya perhatikan mereka.

Ketiganya masuk dan berjalan ke arah kasir. Di dalam lagi ada beberapa orang yang mengantri, menunggu secara bergantian transaksi pembayaran.

Ketiga wanita itu meringsek ke kasir. Mereka enggak peduli disitu lagi ada transaksi pembayaran nota jual beli.

“Mbak, sodakohnya. Pak haji sedekahnya. Ibu haji infaknya..” suara ketiga wanita itu memelas sembari menjulurkan tangan meminta.

Oleh Vegi salah seorang kasir disitu dikasih beberapa koin, untuk ketiganya.

Seorang ibu, kelihatan dari mimik wajahnya agak kurang berkenan. Agak kesal. Ia melihat ke arah tiga wanita itu, dan melanjutkan transaksinya yang sempat tertunda bareng Vegi, gara-gara tingkah ketiga wanita itu.

Ibu yang lagi transaksi itu ngedumel, “Masih muda, badan gede-gede malah meminta-minta!”

Ibu itu ngasih uang receh juga sih, cuma kelihatannya agak risih.

Pak Ali seorang supervisor yang ada disebelah Vegi berucap, “Iya ya masih muda-muda..”

“Yaitu.. Saya yang umurnya sudah tua kayak gini, gigi sudah banyak yang ompong, masih semangat untuk berdagang. Walaupun memang kadang badan ngerasain sakit,” kata ibu itu nyerocos, sambil membayar sejumlah uang ke kasir atas pesanan barangnya.

Saya masih memperhatikan dialog ibu itu bareng tim di agen.

Dia melanjutkan, “Kalo mereka mau sih, bisa kok kerja di toko yang berderet disepanjang pasar Pasalaran ini. Pasti pemilik toko beri mereka kesempatan buat kerja. Daripada mengemis gitu!”

Seorang teman ikut komentar, “Leh, jaman sekarang ini ngemis itu jadi profesi loh. Coba aja liat di lampu merah Plered itu. Setiap hari full pengemis, orangnya itu-itu saja.”

Baca Juga:  Sajak-sajak: Embun pada Helai Daun Mint

“Entahlah.. bingung saya. Enggak ngerti. Semuanya serba enggak jelas. Di televisi dipertontonkan tentang Sulthan. Gapnya jauh banget. Benar enggaknya saya enggak tahu!” kata saya sembari memperhatikan karyawan yang hilir mudik.

“Ustadz dimana-mana meminta jama’ah untuk gemar sedekah, tepat membayar zakat. Sebenarnya dilaksanain enggak ya sama jama’ahnya,” kata dia.

“Kemungkinan dilaksanain. Buktinya menjamur para pengemis. Kan orang-orang suka ngasih uang receh buat sedekah ke pengemis itu kalo di jalan. Loh itu kan tadi contohnya.” jawab saya sekenanya hehehe.

“Tapi kan kebanyakan yang ngasih pengendara motor. Yang bawa mobil malah jarang,” akunya setiap jalan suka memperhatikan.

Saya ketawa hahaha.

“Orang yang enggak punya malah gemar sedekah. Orang kayanya menumpuk harta. Jadi masih mending jadi wong cilik,” imbuhnya.

Saya jawab, “Orang kaya tapi pelit, atau orang miskin suka ngasih. Artinya, sama-sama gak ada artinya apa-apa. Yang paling beruntung adalah orang kaya yang suka berbagi. Itu baru top!”

Saya enggak mau ambil opsi jadi wong cilik. Tidak!!

Semoga kita senantiasa beroleh kebahagiaan hidup dan ridho Allah SWT. Aamiin..

(***)

Penulis: Ahmad Sholeh, Pedagang Sembako

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *