Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here

Cerbung: Perjuangan Hidup (13)

Cerbung: Perjuangan Hidup (13)
Cerita Bersambung: Perjuangan Hidup (13)

(Cakrawalaindonesia.online) – Perjuangan selama belasan tahun harus hancur karena berbagai keadaan yang tidak menentu. Baik karena idealis yang mulai memudar, system social yang rusak, politik yang membuat gaduh, bisnis yang dikuasai hanya golongan tertentu. Semua bermain di negeri ini. Terkadang seseorang yang akan mencapai sesuatu harus menyikut orang terdekat mereka. Yang mereka lihat cuma bagaimana saya dapat lebih dari yang lain. Yang berkecukupan hanya melihat saja. Apalagi ini kota besar. Gengsi dan ego menjadi dominan.

Melihat dunia modeling yang tidak menjanjikan Lina harus mengubur cita-citanya menjadi model ibu kota.

“Sudahlah, jangan malu-malu kita hidup di kota besar. Selagi ada peluang kita manfaatkan saja. Toh para manajemen itu butuh wajah dan tubuh kita,” ujar teman Lina yang sedang membedaki wajahnya supaya terlihat lebih cantik.

“Hanya ini peluang kita untuk menjadi model papan atas. Kita harus mendekati para Borjuis itu,” tambahnya lagi.

Lina masih mematung di depan kaca tempat mereka berdandan untuk tampil pada show nantinya. Lina memperhatikan wajahnya sendiri di depan kaca. Rambutnya yang hitam terurai panjang. Bentuk hidungnya mancung, dagunya yang runcing, mata yang sedikit bulat berwarna coklat. Dia memberontak tapi lagi-lagi ia tidak bisa.

“Setelah itu baru kita ganti profesi. Bisa mengumpulkan uang untuk beli tanah di kampung atau sawah,” ujar teman Lina yang kembali memberi nasehat dari sebelahnya.

Hanya sesekali-kali Lina menjawab dengan senyuman tipis.

“Sorry ya. Aku harus duluan karena sebentar lagi akan tampil. Jaga diri baik-baik. Jadilah wanita pintar. Di dunia yang serba tidak pasti ini.” Temannya melangkah cepat meninggalkan Lina.

“Terima kasih ya Rin,” balas Lina singkat.

Lina merapikan polesan bedak yang masih belum rata di wajahnya. Dengan cermat ia memoleskan gincu merah di bibirnya. Bulu mata dan alisnya ia tebalkan dengan celak berwarna coklat.

Untuk panggilan yang kesekian kalinya. Lina segera menuju ke arah panggung diikuti peserta lain. Lina pun sudah mulai terbiasa dengan kerumunan banyak orang. Wajahnya sekali-kali menatap kamera yang menjepret ke arah wajahnya. Ia pun membalas dengan senyuman paling indah di dunia.

Baca Juga:  Dengarkan Musikku

Ketika ia melangkahkan kakinya ke panggung, kamera dari segala arah berdatangan. Banyak wartawan dari berbagai media yang meliput. Ini merupakan berita yang cukup menarik untuk diangkat.

Karena setelah acara selesai akan ada sesi wawancara dengan para wartawan. Termasuk Lina yang sudah dikontrak oleh perusahaan ternama untuk para model.

Banyak sekali pertanyaan wartawan yang muncul bertanya di depan Lina.

“Bagaimana perasaan anda mengikuti model ini,” tanya seorang wartawan dengan menyodorkan mic kecil di depan bibir Lina.

Dengan sedikit menarik nafas Lina mendengar dan menjawab pertanyaan itu.

“Mengikuti model sudah lama saya impikan. Bahkan sejak saya masih SMP. Akhirnya saya dapat berlabuh disini berkat doa-doa orang terdekat saya,” jawab Lina disertai senyuman yang mengarah ke kamera.

“Berarti anda berjuang keras untuk sampai pada titik ini?” tanyanya wartawan lagi.

“Betul sekali Mas. Apalagi saya cuma dari kampung. Tentunya tidak mudah,” balas Lina.

Para wartawan sibuk mencatat dengan cepat pernyataan-pernyataan dari Lina. Ini bakal menjadi berita menarik dan inspiratif. Bagaimana seorang anak dari kampung berjuang di kota besar demi meraih cita-citanya.

Judul berita pun bisa dibuat dengan bermacam. Anak kampung berjuang hebat demi cita-cita. Ah belum menarik mungkin. Anak kampung jadi model ibu kota, gagal? Disertai tanda tanya diakhir kalimat. Yang dibuat agar pembaca menjadi tertarik.

Berbagai deskripsi muncul dibenak pembaca dengan nada sinis. Ngapain jauh-jauh ke kota kalau cuma jadi model. Jual badan doang.

Ada lagi di benak pembaca lain. Kasihan ya anak kampung gagal jadi model. Ia menaruh simpati.

Tapi begitulah pembaca, mereka punya pendapat masing-masing.

Keberuntungan berpihak pada Lina ia menjadi seorang model yang sukses di Ibu kota. Jadwal pemotretan dari berbagai merek berdatangan seakan-akan menginginkan jasanya. Para lelaki dari berbagai perusahaan coba mendekatinya. Wajah mereka pun glowing-glowing, pakaian mereka necis, rambut klimis yang tertata rapi. Perawatan tubuh pria masa kini yang dapat merogoh kocek puluhan juta rupiah hanya untuk sebuah perawatan.

Baca Juga:  Cerbung: Golongan Darah AB (11)

Para pria menampilkan sikap yang sangat sempurna di depan Lina. Baik dari memberi perhatian lebih, hadiah, bahkan ada juga yang nekat sampai mendatangi ke rumahnya.

“Lina percaya sama aku. Ini serius,” ucap pria bernama Tomy di depan Lina yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya.

Lina masih tetap memperhatikan dengan hitungan sekian detik. Bahwa ia belum percaya terhadap laki-laki yang merupakan seorang pengusaha telekomunikasi itu. Walaupun sebenarnya mereka sudah sering bertemu di acara peluncuran produk baru, yang berkaitan dengan satelit komunikasi.

Perusahaan mengontrak beberapa artis-artis terkenal ibu kota untuk produk mereka. Termasuk Lina yang diutus oleh perusahaannya untuk memerankan produk ternama tersebut di Indonesia.

Tomy pun memiliki posisi yang cukup strategis di perusahaannya. Dimana jika ada proyek baru mengenai satelit komunikasi, Tomy yang ditunjuk untuk memutuskan apakah produk tersebut layak di pasarkan di Indonesia atau tidak. Tentunya hal itu bukan hal yang mudah. Karena berkaitan dengan keuntungan perusahaan. Jika berhasil maka perusahaan akan terus berkembang sampai ke pelosok negeri ini. Tapi jika tidak kerugian yang akan ditanggung.

Lina pun membuka diri untuk berkenalan dengan Tomy walaupun masih menjaga gengsi. Lina mengetahui jika Tomy menyukainya. Tetapi Lina seakan-akan bersikap dingin terhadap Tomy.

Lina sangat santai menanggapi hal tersebut. Seperti kebanyakan para wanita ia tidak ingin tergesa dalam sebuah hubungan. Lina lebih sering membicarakan pekerjaan saja. Dan Tomy pun dengan sabar menurutinya. Mereka masuk ke pembicaraan tentang sebuah pekerjaan.

Beberapa kali Tomy menatap alis hitam milik Lina yang melengkung indah seperti bulan sabit. Tomy langsung terbata-bata untuk menjelaskan tentang pekerjaaannya. Tomy sangat sering berdehem-dehem seperti ada yang macet di tenggorokannya. Tomy pun meminta air minum supaya tersendatnya bisa hilang.

Baca Juga:  Toke nan Malang (3)

Hal itu membuat Lina tertawa geli. Memang jika seorang laki-laki menyukai wanita mereka akan salah tingkah. Lina pun beberapa kali membenarkan posisi rambutnya yang hitam pekat. Rambut itu seperti berkeliau terkena sinar lampu di malam hari.

“Nak Tomy mau minum lagi?” tawar orang tua Lina dengan ramah pada Tomy.

“Cukup Bu, terima kasih. Mungkin saya kebanyakan ngemil kacang di kantor tadi. Makanya suka tersendat suaranya,” jawab Tomy.

“Ngomong-ngomong Nak Tomy kerja dimana?” tanya orang tua Lina.

Tomy mengarahkan pandanganya ke orang tua yang sedang merapikan meja makan. “Kerja di perusahaan swasta Bu.” Balas Tomy singkat.

“Sudah lama kerja di situ?” tambah orang tua Lina lagi.

“Ya..sekitar lima tahun bu.” Jawab Tomy sambil mengingat-ingat takut salah jawab.

“Alhamdulillah yang betah kerjanya. Apalagi sekarang susah cari kerja di kota besar,” ucap orang tua Lina.

“Iya betul Bu.” Seakan menyetujui perkataan orang tua Lina.

Bahwa memang mencari kerja di kota susah-susah gampang alias banyak susahnya. Karena dibutuhkan pengalaman dan koneksi. Ada pengalaman kerja masih bisa mendapatkan pekerjaan walaupun koneksi sedikit. Tapi untuk lebih cepat dapat kerjaan tentunya dua hal tadi harus dominan. Pengalaman kerja dan koneksi. Pengalaman kerja karena harus memiliki skill di bidang yang dikuasai, apa pun itu. Koneksi berkaitan dengan sebuah kepercayaan. Untuk mendapatkannya memang tidak mudah harus berjuang dengan integritas yang ada dalam diri. Dan itu butuh proses waktu yang lama.

Di lain waktu datang seorang laki-laki yang ingin berhubungan serius dengan Lina. Lina pun terkejut ternyata laki-laki tersebut pernah makan di restoran bersama temannya. Ia merupakan seorang direktur perusahaan mobil impor. Lina mengenali laki-laki tersebut karena pernah mendapatkan kontrak kerja untuk iklan mobil baru.

(…bersambung)