Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here

Cerbung: Lukisan (12)

Lukisan
Cerbung: Lukisan (12)

Bab 12

Lukisan

Hanni sampai di rumah dengan jilbab lusuh. Wajahnya coreng moreng, dekil seperti anak kecil yang beberapa hari tidak terkena air. Bajunya seperti terkena himpitan benda keras dengan warna memudar. Di awal yang tadinya putih bersih sekarang abu-abu bercampur debu. Raut wajahnya mengambarkan seorang anak kecil yang kelelahan dengan aktivitas belajar di sekolah.

Ia mengucapkan salam ketika masuk rumah. Ia duduk di sofa berwarna coklat. Kaki menindih meja kaca bergambar kuda di pinggir pantai. Di bawah gambar tertulis by Alexsander. Mungkin yang memahat lukisan itu.
Entah siapa yang meletakkan lukisan itu di meja tamu.

Hanni berkali-kali mengangakan mulutnya tanda menguap seperti kuda nil di Afrika yang berada di pinggiran sungai. Matanya berkedip-kedip berat menahan kantuk. Perlahan matanya mulai sayup menutup dengan sendiri.
Lukisan besar bergambar dirinya, ibunya dan kakak beserta neneknya menjadi penonton bisu menatap Hanni yang kelelahan di ruang tamu.
Hanni mulai memasuki alam mimpi.

Neneknya yang menyaksikan itu hanya mendiamkan saja. “Mungkin dia lelah,” pikirnya.

“Bundamu juga seperti itu dahulunya Hanni, jika kamu mau tahu,” ujarnya lirih.

“Suatu saat kamu yang akan menggantikannya,” sambungnya lagi.

Angin sore yang lembut disertai hawa dingin menyapa masuk ke rumah Hanni. Sejak hujan beberapa hari yang tidak menentu terkadang cuaca sangat tidak stabil. Terkadang sangat panas dan terkadang sangat dingin pula. Udara sore terasa seperti ada es yang menyelinap.

Bintaro sektor 9.

Pohon-pohon hijau berdiri tegak menghiasi jalan raya. Rumput-rumput pun tertata rapi. Selokan yang berada di pinggiran rumput mengaliri air sungai yang sangat jernih. Walaupun di depan serta samping kanan, kiri dan belakang terdapat gedung-gedung yang megah beserta tempat rekreasi tetapi suasana kehijauan masih sangat terasa.

Baca Juga:  CerBung: Idealisme (BAB 14)

Pagi ini Hanni menaiki sepeda yang baru di beli oleh Bundanya. Sepeda itu adalah hadiah untuk Hanni yang mampu bertahan di peringkat tiga besar di kelasnya. Bundanya pun harus bekerja keras untuk mengajari Hanni supaya tidak tertinggal pelajaran. Apalagi mata pelajaran di sekolah Hanni begitu banyak. Hampir enam belas mata pelajaran ditambah dengan pelajaran ekstrakurikuler.

Anak yang masuk sekolah di tempatnya harus dites dulu. Dan rata-rata anak yang masuk sekolah di tempatnya Hanni sudah memiliki pengetahuan dasar mengenal huruf, angka, kosa kata bahasa asing.

Walaupun sebenarnya hal itu belum dibolehkan karena tugas seorang anak adalah bermain. Tapi ketika anak masuk di Sekolah Dasar baru diajarkan tentang huruf-huruf. Sepertinya para orang tua tidak memperdulikan hal tersebut. Bagi mereka bagaimana anaknya bisa seperti anak-anak yang lain. Para orang tua sangat khawatir jika anak mereka pada masa sekolah dasar belum dapat membaca.

Maka tidak heran sebagian besar teman-teman seperti Sasi, Karin, Alvino. Mereka sudah menguasai banyak hal. Dan peringkat kelas diisi oleh nama-nama Alvino, Rafan, Karin dan Hanni. Nilai mereka pun hanya terpaut satu point.

“Sepeda enak dinaiki bunda,” ujar Hanni sambil mengelilingi taman rumput yang memang disediakan untuk pengunjung.

Hanni dengan mengenakan kaos bergambar kartun anak sholeha berwarna biru laut dan mengenakan jilbab. Ditemani oleh bundanya yang menggunakan celana bahan untuk khusus olah raga disertai jilbab dan topi panjang ke depan.

Hanni dan Bundanya mengitari taman tersebut hingga beberapa kali. Tidak terasa di wajah butiran keringat kecil-kecil bermunculan.

“Capek Bunda. Aku mau istirahat dulu,” ujarnya dengan menyandarkan sepedanya.

Ia berkali-kali menarik nafas supaya lega.

Baca Juga:  Cerbung: Mendoakan Ayah dan Bunda (9)

“Makanya jika agak terlalu diporsir tenaganya jadi cepat capek kan?” bundanya menimpali.

“Ayo lap keringatnya pakai tisu ini!” seru bundanya dengan memberikan beberapa lembar tisu putih.

“Terima kasih Bunda.” Hanni memasang wajah tersenyum.

“Aku pingin minum es bunda,” pinta Hanni kepada Bundanya yang duduk disampingnya.

Angin sepoi-sepoi menyapa mereka di tengah terik yang mulai menampakan sinar mentari pagi.

“Hanni….Hanni pagi seperti ini belum ada es,” jawab bundanya.

Hanni melirik seperti merasa bersalah, ”Iya. Iya ini kan masih pagi. Bisa jadi tukang esnya masih tidur nyenyak,” sahutnya.

“Nanti kita akan beli es tebu pas pulang olah raga.” ujar Bundanya.

“Enggak usah bunda. Cukup air putih saja,” balas Hanni.

“Lagian air putih. Kata Mr Alki sangat menyehatkan.” timpalnya lagi.

Bundanya tersenyum mendengar celotehan Hanni yang masih kecil.
Telepon Bundanya berdering tertera tulisan besar yang Hanni dapat membacanya. Mas Haryono.

Sambil mengucapkan salam Bunda Hanni menjawab telepon tersebut. Ia pun pamit dengan Hanni untuk bicara dengan si penelpon. Bunda Hanni berjalan pelan sambil bicara menuju area rumput yang tidak jauh dari Hanni.
Sedang Hanni kembali memutari taman dengan menyusuri jalan setapak bersemen. Walaupun sedikit pelan ia menaiki sepeda dengan sangat riang. Karena dihari libur seperti ini ia dan bundanya dapat menghabiskan waktu berdua.

Kecepatan sepeda yang ia tunggangi dipercepat membuat Hanni seperti terbang. Hanni tidak menyangka jika ditaman ada lubang kecil bekas semenisasi yang rapuh.

Sepeda yang ia naiki terjungkal ia pun terpelanting jatuh…bukkk..
“Aaaaaa…bunda!” teriaknya.

Tubuh Hanni masuk got yang sedikit mirip irigasi yang mengitari taman. Hanni mengadu kesakitan. Bundanya memiliki perasaan yang tidak enak. Ia membalik badan. Tiba-tiba Hanni tidak ada.

Baca Juga:  Cerpen True Story: Konsultasi Jarak Jauh (Bagian 2)

“Hanni…” panggilnya memasang wajah panik.

Telepon yang digenggamnya tadi segera ia matikan. Bundanya berlari kecil. Ia coba melihat ke kanan dan ke kiri tapi ia tidak mendapati Hanni. Sepeda yang Hanni pakai pun juga hilang.

Hanni berteriak kembali.”Bunda…!” Setelah itu bundanya melihat Hanni sudah berlumuran tanah lumpur. Lutut Hanni sedikit berdarah.

“Aku jatuh Bunda,” ucap Hanni sambil menahan rasa sakit.

Bundanya mengulurkan tangan untuk menyambut Hanni yang berada di got. Dengan tertatih ia menarik Hanni sampai ke atas taman yang berumput.

“Makanya naik sepeda itu hati-hati,” ujarnya Bundanya.

“Aku enggak tahu kalau jalannya ada lubang bunda,” jawab Hanni.

“Kakiku sakit bunda,” seru Hanni.

Jam 17:00 WIB bagian Jakarta.

Neneknya Hanni melirik jam yang sudah menunjukan waktu sore. Ia baru teringat bahwa Hanni tertidur di sofa depan. Segera ia menuju ruang depan untuk membangunkan Hanni.

Sang Nenek terkejut melihat Hanni dengan mata terpejam sambil memegang kakinya sendiri dan merintih kesakitan.

Sang Nenek mengoyang-goyangkan badan Hanni yang masih tertidur lelap.

“Hanni bangun sudah sore. Ayo mandi,” perintahnya.

Hanni pun masih belum tersadarkan. Akhirnya Sang Nenek mengambil segelas air putih. Dengan cepat ia menyimprat air ke wajah Hanni.

Hanni pun terkejut bukan main.

“Ah…Nenek,” ucapnya dengan wajah berat.

“Sudah sore Hanni,” balas Sang Nenek.

“Orang Hanni lagi mimpi dengan bunda tadi,” sergah Hanni menahan kesal.

Dengan wajah berat ia mengikuti perintah Sang Nenek. Mimpi itu menjadi obat rindu Hanni pada bundanya.

(…bersambung)