Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here
Close Ads Here

Cerbung: Histeris (4)

Bab 4
Histeris

Jalan Manunggal. Menjelang siang yang begitu terik jalan ini sepi sentosa. Hanya ada beberapa orang yang melewati jalan ini. Untuk menuju jalan ini biasa melintasi di bawah jalan tol yang cukup ramai dengan berbagai kendaraan. Beberapa ratus meter terdapat kampus swasta yang megah bernama Mercubuana.

Menurut masyarakat setempat sebenarnya untuk menuju jalan Manunggal ada jalan pintas yang biasa dilalui masyarakat di situ, tapi karena sering terjadi pembegalan tempat tersebut jarang dilewati. Dan tempatnya sangat sepi jarang dilalui pengendara lainnya.

Sebelum masuk jalan Manunggal terdapat rumah makan milik pelawak kondang bernama Aziz Gagap. Sejak adanya rumah makan, di depan jalan Manunggal sering macet.

“Bang Belok kanan nyeberang jalan ya,” seru Hanni pada Gojek.

“Baik Dek,” jawabnya dengan memasang lampu sein kanan dan berbelok.

Ketika akan berbelok. Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnn..tinnnnnnnnn, terdengar suara klakson dengan suara nyaring teramat sangat nyaring. Membuat Hanni terkejut bukan main.

“Ouiii., kalau belok jangan kelamaan.!” ujar pengendara mobil angkot putih pada Sang Gojek.

“Gitu aja marah mas. Sabar dikit napa,” gerutuknya dengan berbelok pelan.

Sang Gojek melepaskan helm warna hijau terang dari kepala Hanni. Jilbabnya menjadi kusut karena bergesekan dengan helm. Beberapa lembar uang kertas berwarna merah tua diberikan kepada Sang Gojek.

“Ibu, maaf, saya belum ada kembalian uangnya. Saya baru saja dapet orderan ini,” ucapnya dengan raut memelas.

“Tidak apa Pak. Kembaliannya buat Bapak saja.” Sang Gojek girang bukan main.

“Emang rezeki itu tidak akan pergi kemana,” celetuknya.

“Terima kasih ya Bu,” sahutnya kepada Bibi yang masih menunggu di rumah. Sementara bibi yang satunya lagi sedang berada di rumah sakit. Sang Gojek berlalu pergi dengan melepas senyuman.

Baca Juga:  Hujan Mengguyur, Jasa Pawang "Ambyur"

Begitu sampai di rumah, Hanni sedikit terkejut dengan banyaknya orang yang berkumpul di bawah pohon mangga yang ada di depan rumahnya.

Mungkin dia bertanya, “Ada apa ini?” “Mengapa mereka banyak sekali,” sambil melangkah pelan menuju rumahnya.

Ia menyela-nyela orang yang berkerumun ramai di depan rumahnya.
Terdengar sayup-sayup lantunan Surat Yassin. Membuat Hanni semakin penasaran.

Ia dapati Sang Nenek menangis dipelukan seorang perempuan.
Hanni mengucapkan salam. Sang Nenek menoleh seakan tahu bahwa itu suara Sang Cucunya.

“Kak Hanni sudah sampai?” Hanni diajak masuk ke kamar.

“Ini ada apa Nek. Kok banyak orang diluar?” Hanni bertanya penasaran.

“Kakak minum air putih dulu ya,” balasnya, agar Hanni tenang dulu.

Dua kali tegukan Hanni menghabiskan air tersebut. Ia kehausan karena dehidrasi di jalan tadi.

“Ibu dibawa ke rumah sakit Kak,” terang Sang Nenek.

“Ibu Kenapa Nek. Pingsan ya?”sahut Hanni yang penasaran.

“Ia Kak,” balas Sang Nenek.
“Insya Allah bunda Kakak baik-baik saja.”

Tiba-tiba Hanni berlari ke kamar Sang Kakak dan menutup pintu dengan keras. Ia berteriak histeris. Air mata Hanni mengalir.

Terdengar suaranya yang mengaduh sendiri, “Bunda kenapa ya kok tiba-tiba pingsan gitu. Apa Hanni nakal ya selama ini. Atau tidak nurut. Hanni janji, Hanni tidak akan ngeyel dan bandel lagi.” sambil terisak tangis.

Sang Nenek tertegun di luar kamar. Para tetangga yang hadir pun ikut prihatin.

(***)