Beberapa Kecenderungan yang Ganjil dalam Pembacaan Karya Sastra

(CIO) — Ngopi sambil ngobrol santai dengan M Syari Faidar –Founder dan Editor Cakrawala Indonesia.Online– tadi malam, mengingatkan tulisan saya 12 tahun lalu dan pesan senior saya –Kang Iman Sholeh STSI Bandung– pernah berbisik kepada saya “Seni itu bukan kenyataan, tetapi juga bukan anti kenyataan”. Butuh perenungan mendalam untuk memahami kalimat itu, sampai saya mendapati jawaban –seperti tulisan sebelumnya– bahwa seni itu ekspresi, tidak ada ruangan kamar, kotak ataupun gudang untuk membatasinya. Seni itu selalu bertolak dari akal sehat dan sama sekali bukan sesuatu yang dianeh-anehkan atau ‘aeng-aeng’ –bahasa Jawa.

Benar, bahkan dalam penciptaannya selalu ada idealisasi, namun tetap bukanlah sesuatu yang asing atau yang aneh.
Seni sejati akan hadir dan diterima secara wajar dalam kehidupannya. Proses berfikir kreatif seniman merupakan proses yang bermuara akan lahirnya ide-ide baru dalam karya seni.

Bagi saya… seni begitu indah karena begitu kaya, begitu dinamik, begitu hidup, bagaikan hidup itu sendiri yang mangandung begitu banyak kemungkinan.

Seni sejati tidak menghendaki “pemolaan-pemolaan” tertentu yang akan memiskinkan bentuknya –Mas Suminto A. Sayuti dalam sebuah pesannya ketika penulis menyiapkan pementasan Festival Teater Peksiminas IV 1997 naskah “Sidang Para Setan” di Rumentang Siang Bandung.

Jadi, saya berkesimpulan bahwa seorang pembaca karya sastra yang baik, taruhlah pembaca puisi, pasti menyadari bahwa tidak pernah ada pola ‘lagu-ucapan’ tertentu –intonasinya. Bahkan sekalipun ia menghadapi sebuah puisi yang berbentuk syair pantun, atau bentuk puisi mutakhir atau modern, ia dengan sendirinya akan menyadari bahwa kemungkinan pada intonasi tetap terbuka dan mengandung banyak kemungkinan pula.

Disamping itu juga bagaimana memerlukan tekanan kata dengan kesadaran bahwa dua tekanan yang berbeda itu tergantung dari isi dan semangat kalimat atau sajaknya. Banyak pembaca puisi yang suka memberi tekanan istimewa pada kata di awal sajak dan di akhir sajak. Keadaan atau kebiasaan seperti itu jelas sesuatu kekeliruan dan merupakan bentuk sikap yang memiskinkan kreatifitas. Lebih-lebih pada pembaca pemula yang menekan hampir setiap kata dalam kalimat. Kalau semuanya ditekan berarti tidak ada tekanan. Artinya kalau semua penting maka tidak ada yang penting.

Baca Juga:  STANUM (punya) CERITA

Bahkan Kang Iman Sholeh pernah menyampaikan bahwa sebetulnya menarik untuk dikaji atau dilacak untuk masa-kemasa, dari mana mereka belajar sehingga mengambil sikap aneh setiap kali tampil di pentas membacakan karya sastra. Umumnya mereka perlu merasakan menggagah-gagahkan diri, seram, tegang, bahkan tidak jarang membuat tampang mereka menjadi bengis atau seram. Dan ini terjadi juga pada banyak pembaca perempuan, sehingga mereka menggantikan kecantikannya dengan keseraman, sambil tidak jarang menaik-turunkan alis serta menatapkan pandangan yang penuh ancaman.

Yang terakhir saya kutip kata bijak dari aktor besar Konstantin Stanilavsky bahwa : “Musuh seorang aktor –pembaca puisi– adalah ketegangan otot-daging”. Artinya, bersikaplah wajar.

(Bersambung … “Alat dan Teknik Membaca Puisi atau Syair/Sajak”)

Nopember 2008

(***)

Penulis: Joko Tingkir, Pemerhati masalah Sastra dan Teater.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *